PEREMPUAN MANDIRI

3 02 2010

Menjadi seorang wanita yang sukses dalam segala bidang adalah dambaan setiap perempuan. Tetapi tidak semudah yang kita bayangkan untuk mewujudkan semua impian-impian menjadi kenyataan. Seperti memiliki pekerjaan tetap, gaji besar, suami yang mapan dan sukses, keluarga bahagia, punya rumah, mobil pribadi segala kebutuhan terpenuhi, tabungan yang melimpah, dan sebagainya.
apabila ingin segala sesuatu tersebut tercapai tentunya dibutuhkan kerja keras, doa, usaha, semangat dan pantang menyerah. Tetapi terkadang apa yang kita bayangkan tidak sesuai dengan kenyataan. Meskipun sudah berusaha mati-matian bekerja keras bercucuran keringat dan air mata bila memang belum saatnya Tuhan memberikan kita apa yang kita inginkan, maka impian hanyalah tinggal impian belaka.
Seperti yang telah saya alami. Saya adalah anak dari seorang yang berkecukupan. Seperti orang tua-orang tua pada umumnya yang selalu menginginkan anaknya hidup bahgia dan berkecukupan pula, orang tua saya menginginkan saya kuliah, bekerja dan kemudian menikah dengan seorang pria yang mapan baik moril maupun materiil. Tapi setelah saya lulus kuliah ternyata saya bertemu dengan seorang pria biasa, wiraswasta kecil berpendidikan rendah yang kemudian menjadi suami saya. Pada awalnya mereka sangat menentang hubungan kami yang baru sekedar sebagai teman dekat. Kemudian seiring berjalannya waktu hubungan kami terus membaik dan menguat. Bahkan baru saja 2 bulan berpacaran, pria itu melamar saya yang notabene saya masih kuliah saat itu. Terang-terangan orang tua saya tidak menyetujuinya. Mereka bilang tunggu saja sampai saya lulus dan bekerja. Padahal di belakangnya ibu saya yang paling menentang dan selalu membujuk dan mempengaruhi saya untuk tidak berhubungan dengannya. Orang tua saya memang baik padanya karena dia juga sangat baik dan perhatian pada keluarga kami.
Hari berganti hari hubungan kami terus mengakar dan menguat bahkan bisa dibilang tak terpisahkan. Dia(pria baik itu) sangat perhatian, menyayangi, setia dan mencintai saya sepenuh hati. Orang tuanya pun mengetahui dan menyetujui hubungan kami kami.
Mas Nur(nama pria itu) terus menjaga saya dan hubungan kami agar tetap bertahan meskipun ditentang oleh orang tua kami. Dia juga memnuhi segala kebutuhan saya, mulai dari SPP kuliah, pulsa, makan dan kebutuhan lainnya. Tak jarang dia membelikan saya dan orang tua kami bahkan adik saya sesuatu skeradr untuk menyenagkan hati mereka. Kebetulan pada saat itu keadaan ekonomi keluarga kami agak merosot karena orang tua kami terjerat hutang untuk membeli sebuah rumah baru., di saat itulah dia ikut berjuang untuk menutupi sebagian kebutuhan keluarga kami. tak henti-hentinya dan tak mengenal lelah dia meyakinkan keluarga saya bahwa dia adalah seorang pria yang sangat bertanggung jawab(karena dia memang seorang yang bertanggung jawab).
Dia terus berusaha meyakinkan mereka bahwa saya akan bahagia bersamanya. Hingga akhirnya aku lulus kuliah. Dia selalu memberi saya dukungan untuk tetap semangat melamar pekerjaan (yang sangat sulit dicari) dan juga berdoa untuk saya agar Tuhan mempermudah usaha saya.
Setelah wisuda saya belum juga mendapatkan pekerjaan sering sekali saya menangis, namun Mas Nur tak lelahnya memberi dukungan dan semangat pada saya. Dia juga mengantar kemanapun saya pergi untuk melamar pekerjaan, yang pada saat itu 29 tempat telah saya masuki surat lamaran kerja. Dan saya pun mendapatkan pekerjaan di sebuah sekolah dasar sebagai GTT(guru tidak tetap). Kami sangat bahagia, terlebih Mas Nur, matanya berbinar ketika dia memberi tahu saya diterima kerja di tempat tersebut melalui seorang saudara ayah saya.
Setelah 6 bulan beketja dirasa cukup lama dia menunggu saya ( 5 tahun) akhirnya keluarganya datang melamar saya. lalu bagaimana dengan orang tua saya? Mrerka akhirnya menyetujui hubungan dan pernikahan kami karena mereka rasa Mas Nur adalah orang yang sangat penyayang dan sangat bertanggung jawab pada keluarga.
Setelah 6 bulan menikah, saya hamil dan pada bulan Januari 2009 putri pertama kami lahir dengan selamat. Mas Nur lah yang paling bahagia, karena itulah yang diinginkannya, mempunyai seorang anak perempuan yang kemudian kami beri nama Almaira.
Selama mengarungi bahtera rumah tangga dengan suami tercintaku, hidup kami memang sangat pas-pas an. Namun kami tetap bahagia karena alhamdulillah di tengah kesusahan sekalipun kami berusaha dengan keringat kami sendiri, kami selalu mencoba mandiri tanpa merepotkan orang tua. kami saling berbagi. Gaji saya untuk keperluan rumah tangga dan bayar tagihan Bank yang telah digunakan kami dan orang tua yang jumlahnya tidak sedikit, dan tagihan itu kami yang membayarnya sebagai ganti kebutuhan makan kami yang ditanggung orang tua. sedangkan penghasilan suami untuk beli susu dan keperluan lain. Sambil bekrja aku juga “nyambi” berjualan macam-macam, mulai dari MLM, baju, tas dan bahkan makanan untuk membantu suami dan agar kami lagi-lagi tidak merepotkan orang tua. Meskipun kami hidup pas-pas an kami tetap bahagia karena buah hati kami tumbuh sehat dan cerdas. Kami hampir tidak pernah bertengkar, kalaupun sedikit berdebat itu hal biasa.
Namun, takdir hidup kita tak ada yang tahu selain Yang Maha Mengetahui, Alloh SWT. Belum genap 1 tahun usia putri kami, suami tercinta dipanggil Yang Kuasa karena kecelakaan lalu lintas. Sungguh bagai disayat seribu pedang hatiku mendengar orang yang tercinta, belahan jiwa begitu cepat berpulang padaNya. Air mata pun seolah tak mau menetes karena terlalu pedih, dada pun terasa sesak. Namun apapun yang terjadi tak bisa dielakkan. Apabila Tuhan berkehendak, Kun Fayakun tidak ada yang tak mungkin. Walau bagaimana pun saya tetap berusaha tegar, tabah dan kuat. saya harus berdiri di atas kaki saya sendiri sudah tak tempat untuk bersandar dan menopang saya selain orang tua saya yang sudah tua. Saya juga masih punya si kecil Alma.
“Tuhan pasti telah memilih orang yang tepat untuk diberiNya cobaan dan yang pasti orang itu adalah orang yang kuat, dan orang itu adalah saya”begitu pikir saya untuk menguatkan dan memotivasi diri. Toh kelak kami akan bertemu kembali di surga bila Tuhan menghendaki, insya Alloh.
Akhirnya mulai hari itu saya harus lebih mandiri (meski sebelumnya saya juga mandiri) dan harus lebih rajin bekerja demi mencukupi kebutuhan keluarga kami dan orang tua. Cobaan saya tak hanya berhenti di situ, lamaran CPNS saya juga ditolak karena tidak memenuhi adminsitrasi, ini memang kecerobohan saya yang seharusnya 4 foto yang harus saya lampirkan tetapi hanya 2 yang saya masukkan ke dalam amplop. saudara saya pun yang bekerja di BPD kota tidak bisa atau tidak mau membantu saya kurang tahu yang jelas tidak bisa membantu saya. Doa saya lagi-lagi tidak dikabulkan, yang tadinay saya pikir Alloh akan mengobati luka hati saya karena kehilangan suami dengan diterima sebagai PNS ternyata hanya khayalan saya belaka. Lagi-lagi saya berusaha tegar.
Segala cobaan ini semakin mencambuk saya untuk terus berusaha kuat, sabar, tegar dan tabah. Dan yang paling penting, ini semakin menedkatkan saya dengan Alloh Yang Agung.
Saya terus berusaha sambil bekerja di SMK yang saya cintai mulai dari baju, jilbab, tas dan MLM terus saya jalankan. Alhamdulillah Alloh selalu membantu umatnya yang terhimpit. dagangan saya selalu laku habis.
Saya juga mulai melamar pekrjaan lain atas informasi seorang teman, sebagai tambahan karena tagihan saya tiap bulan sangat banyak mulai dari sepeda motor ( yang kami beli secara kredit seminggu sebelum suami meninggal), lap top dan tentunya Bank. Alhamdulillah saya beruntung, karena saya diterima bekerja di lembaga bimbingan belajar ternama yang mestinya tidak menerima lulusan Universitas swasta seperti saya.
Beginilah hidup, walaupun saya perempuan, saya tidak akan menyerah pada nasib, saya akan terus berusaha untuk membahagiakan keluarga saya dan orang tua. Seperti yang pernah saya baca “Takdir Tuhan itu berada apada ujung usaha manusia” oleh karenanya saya semakin bersemangat mengubah takdir penderitaan saya menjadi kebahagiaan dunia akhirat. Insya Alloh. Dan kalimat “manusia tidak akan pernah beristirahat sebelum kedua kakinya mencapai pintu surga” inilah yang menjadikan saya seprti sekarang, Everyday is working. Setiap waktu adalah bekerja. Semoga Alloh selalu melimpahkan rahmat, ridha, berkah dan karunianya di setiap usaha saya agar selalu berhasil. Amin.Amin.Ya Rabbal.’Alamin.


Aksi

Information

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




%d blogger menyukai ini: