PENELITIAN TINDAKAN KELAS IPA SEKOLAH DASAR

3 02 2010

HALAMAN PENGESAHAN

Telah disahkan laporan Penelitian Tindakan Kelas ini terdiri dari mata pelajaran eksakta dan non eksakta dalam mata kuliah Pemantapan Kemampuan profesional ( PKP PGSD ), sebagai berikut:

Laporan Eksakta

Mata Pelajaran : Sains

Judul                               : Upaya Meningkatkan Pemahaman Siswa pada Mata Pelajaran IPA tentang Sumber Daya Alam melalui Media  Gambar  Siswa Kelas IV SDN Ngadirejo 03  Kecamatan Wonoasri Kabupaten Madiun

Laporan Non Eksakta

Mata Pelajaran                : IPS

Judul                               : Upaya Meningkatkan Pemahaman Siswa pada Mata  Pelajaran IPS tentang Perkembangan Teknologi  Media Realita dan Metode Diskusi Siswa Kelas IV SDN Ngadirejo 03 Kecamatan

.

Telah disahkan oleh :

SUPERVISOR

Dra. Endah Rahmawati, M.Pd

NIP. 131900477

KATA PENGANTAR

Dengan mengucap syukur Alhamdulillah kehadirat Allah SWT, hanya dengan limpahan rahmat dan hidayah-Nya, penulis dapat menyelesaikan tugas penyusunan laporan ini dengan tuntas untuk memenuhi persyaratan mata kuliah Pemantapan Kemampuan Profesional (PKP).

Peneliti menyajikan dua jenis laporan yakni mata pelajaran ekskata dan noneksakta dalam laporan ini. Pada mata pelajaran ekskata penulis menggunakan pelajaran Sains dengan judul “Upaya Meningkatkan Pemahaman Siswa pada Mata Pelajaran IPA tentang Sumber Daya Alam melaui Media Gambar  Siswa Kelas IV SDN Ngadirejo 03 Kecamatan Wonoasri Kabupaten Madiun dan pada mata pelajaran non eksakta dengan judul “Upaya meningkatkan pemahaman siswa pada mata pelajaran IPS tentang perkembangan teknologi melalui media realita dan metode diskusi siswa kelas IV SDN Ngadirejo 03 Kecamatan wonoasri Kabupaten Madiun”.

Keberhasilan penulisan laporan ini sudah barang tentu tidak lepas dari campur tangan dan berbagai bantuan berbagai pihak yang membantu penulis menyelesaikan laporan ini. Oleh sebab itu penulis ingin menyampaikan rasa terima kasih yang sebesar-besarnya kepada :

  1. Prof. Dr. M.Atwi Suparman, M.Sc.selaku rektor Universitas Terbuka.
  2. Ibu Dra. Kisyani,M.Hum selaku kepala UPBJJ-UT Surabaya.
  3. Ibu Dra. Endah Rahmawati, M.Pd. selaku supervisor pembimbing yang telah banyak membimbing dan mengarahkan kami dalam pelaksanaan kegiatan tersebut.
  4. Semua dosen program S1 PGSD Pokjar Madiun yang telah mendidik dan mengajar ilmu penegetahuan kepada penulis.
  5. Ibu Haru Sumirah, S.Pd selaku kepala sekolah dan bapak ibu guru SDN Ngadirejo 03 kecamatan Wonoasri yang telah membantu dalam melaksanaan praktik perbaikan pembelajaran.

6.  Rekan-rekan mahasiswa S1 PGSD Pokjar Madiun yang telah memberikan bantuan moril maupun materiil.

  1. Semua pihak yang telah membantu terselesaikannya laporan Pemantapan Kemampuan Profesional ( PKP) PGSD Pokjar Madiun.

Penulis menyadari bahwa dalam penulisan laporan ini masih banyak kekurangannya, sehingga penulis sangat mengaharapkan masukan dan tanggapan dalam penyusunan laporan ini. Akhirnya penulis berharap semoga proposal ini besar manfaatnya dalam pembelajaran IPA khususnya dan dunia pendidikan pada umumnya. Amin.

Madiun, 26 April 2009

Mahasiswa

SUGIYONO

NIM 813836632

ABSTRAK

Sugiyono, 2009. UPAYA MENINGKATKAN PEMAHAMAN SISWA PADA MATA PELAJARAN IPA TENTANG SUMBER DAYA ALAM MELALUI MEDIA GAMBAR SISWA KELAS IV SDN NGADIREJO 03 KECAMATAN WONOASRI KABUPATEN MADIUN

Kata Kunci : Meningkatkan  pemahaman, Media Gambar

.

Berdasarkan pengalaman di lapangan, pembelajaran IPA secara konvensional kurang mendapat perhatian dan simpati dari peserta didik dibanding dengan mata pelajaran olah raga, kesenian atau ketrampilan. Waktu pelajaran berlangsung banyak peserta didik yang kurang memperhatikan dengan sungguh-sungguh, berbicara dengan temannya, atau melakukan kegiatan-kegiatan lain yang tidak terfokus pada mata pelajaran. Hal ini sangat merepotkan guru dalam menyampaikan materi pelajaran, sebab guru disibukkan dengan urusan penertiban suasana kelas yang kurang mendukung. Sehingga penyampaian materi kurang maksimal dan siswa juga tidak bisa memahami materi pelajaran secara maksimal pula. Karena itu penulis berinisiatif melakukan perbaikan pembelajaran melalui Penelitian Tindakan Kelas  (Classroom Action Research).

Di samping memperbaiki pemahaan siswa penelitian ini bertujuan mendeskripsikan suatu upaya meningkatkan minat belajar melalui media gambar pada siswa kelas IV SDN Ngadirejo Kecamatan Wonoasri Kabupaten Madiun.

Media gambar dipilih sebagai sarana memperbaiki pembelajaran karena terbukti mampu membangkitkan minat siswa dalam proses belajar mengajar. Dengan demikian berdampak pada peningkatan pemahaman materi dan peningkatan prestasi belajar siswa.

Terbukti sebelum menggunakan media gambar diperoleh data awal hasil tes akhir siswa dari 16 siswa kelas IV semester 2 SDN Ngadirejo masih jauh dari harapan yaitu kurang dari 50% ketuntasan belajar yang seharusnya 85%. Keaktifan siswa dalam bertanya dan menjawab pertanyaan juga rendah hanya 32% targetnya adalah 80% sampai 90%. Setelah menggunakan media gambar pada siklus II perbaikan pembelajaran menunjukkan 85% siswa mencapai ketuntasan belajar dan tingkat keaktifan siswa dalam bertanya 75% kemampuan menjawab pertanyaan 83% itu merupakan pencapaian yang memuaskan penulis. Dengan demikian apa yang penulis harapkan telah tercapai dengan melakukan perbaikan pembelajaran melalui penelitian tindakan kelas ini yaitu suatu peningkatan prestasi belajar.

ABSTRAK

Sugiyono, 2009. UPAYA MENINGKATKAN PEMAHAMAN SISWA PADA MATA PELAJARAN IPS TENTANG PERKEMBANGAN TEKNOLOGI MELALUI MEDIA REALITA DAN METODE DISKUSI SISWA KELAS IV SDN NGADIREJO 03 KECAMATAN WONOASRI KABUPATEN MADIUN

Kata Kunci : Meningkatkan  pemahaman, Media Realita

.

Berdasarkan pengalaman di lapangan, pembelajaran IPS umumnya kurang mendapat perhatian dan simpati dari peserta didik dibanding dengan mata pelajaran olah raga, kesenian atau ketrampilan. Waktu pelajaran berlangsung, mayoritas peserta didik kurang memperhatikan dengan sungguh-sungguh, mereka hanya berbicara dengan temannya, atau melakukan kegiatan-kegiatan lain yang tidak terfokus pada mata pelajaran. Hal ini sangat merepotkan guru dalam menyampaikan materi pelajaran, sebab guru disibukkan dengan urusan mengkondisikan suasana kelas yang kurang mendukung. Sehingga penyampaian materi kurang maksimal dan siswa juga tidak bisa memahami materi pelajaran secara maksimal pula. Karena itu penulis berinisiatif melakukan perbaikan pembelajaran melalui Penelitian Tindakan Kelas  (Classroom Action Research).

Di samping memperbaiki pembelajaran penelitian ini bertujuan mendeskripsikan suatu upaya meningkatkan minat belajar IPS melalui media realita pada siswa kelas IV SDN Ngadirejo Kecamatan Wonoasri Kabupaten Madiun.

Media realita dipilih oleh peneliti sebagai sarana memperbaiki pembelajaran karena terbukti mampu membangkitkan minat siswa dalam proses belajar mengajar. Dengan demikian berdampak pada peningkatan pemahaman materi dan peningkatan prestasi belajar siswa.

Terbukti sebelum menggunakan media gambar diperoleh data awal hasil tes akhir siswa dari 16 siswa kelas IV semester 2 SDN Ngadirejo masih jauh dari harapan yaitu kurang dari 50% ketuntasan belajar yang seharusnya 85%. Keaktifan siswa dalam bertanya dan menjawab pertanyaan juga rendah hanya 32% targetnya adalah 80% sampai 90%. Setelah menggunakan media gambar pada siklus II perbaikan pembelajaran menunjukkan 85% siswa mencapai ketuntasan belajar dan tingkat keaktifan siswa dalam bertanya 75% kemampuan menjawab pertanyaan 83% itu merupakan pencapaian yang memuaskan penulis. Dengan demikian apa yang penulis harapkan telah tercapai dengan melakukan perbaikan pembelajaran melalui penelitian tindakan kelas ini yaitu suatu peningkatan prestasi belajar.

BAB I

PENDAHULUAN

  1. A. Latar Belakang Masalah

Era global telah berkembang dan meluas begitu pesat. Hal ini harus didukung pula oleh peningkatan sumber daya manusia sebagai pelaksana kemajuan era global tersebut. Sehubungan dengan hal tersebut, pendidikan merupakan tonggak utama kemajuan sumber daya manusia. Sehingga secara spesifik tentunya guru dituntut untuk mampu menciptakan manusia-manusia yang berkompeten di bidangnya masing-masing.

Namun sayangnya banyak kendala yang masih dialami guru dalam proses pembelajaran yang salah satunya adalah daya serap siswa yang sangat terbatas sehingga untuk mengatasi hal ini diperlukan penggunaan metode yang sesuai dan cocok dalam proses pembelajaran.

Kurikulum 2004 berbasis kompetensi (KBK), yang diperbaharui dengan Kurikulum 2006 (KTSP), telah berlaku selama 4 tahun dan semestinya dilaksanakan secara utuh pada setiap sekolah. Namun pada kenyataannya, pelaksanaan pembelajaran di sekolah, masih kurang memperhatikan ketercapaian kompetensi siswa. Hal ini tampak pada RPP yang dibuat oleh guru dan dari cara guru mengajar di kelas masih tetap menggunakan cara lama, yaitu dominan menggunakan metode ceramah-ekspositori. Guru masih dominan dan siswa resisten, guru masih menjadi pemain dan siswa penonton, guru aktif dan siswa pasif. Paradigma lama masih melekat karena kebiasaan yang susah diubah, paradigma mengajar masih tetap dipertahankan dan belum berubah menjadi peradigma membelajarkan siswa. Padahal, tuntutan KBM, pada penyusunan RPP menggunakan istilah skenario pembelajaran untuk pelaksanaan pembelajaran di kelas, ini berarti bahwa guru sebagai sutradara dan siswa menjadi pemain, jadi guru memfasilitasi aktivitas siswa dalam mengembangkan kompetensinya sehingga memiliki kecakapan hidup (life skill) untuk bekal hidup dan penghidupannya sebagai insan mandiri.

Demikian pula, pada pihak siswa, karena kebiasaan menjadi penonton dalam kelas, mereka sudah merasa cukup hanya dengan kondisi menerima dan tidak biasa memberi. Selain dari karena kebiasaan yang sudah melekat mendarah daging dan sukar diubah, kondisi ini kemungkinan disebabkan karena pengetahuan guru yang masih terbatas tentang bagaimana siswa belajar dan bagaimana cara membelajarkan siswa.

Keterbatasan pengetahuan guru ini yang diduga menjadi salah satu penyebab tidak efektifnya pengajaran di dalam kelas. Terlebih lagi pengajaran yang dilakukan guru tersebut disebabkan pula oleh kurang tepatnya guru dalam menggunakan strategi pembelajaran.  Hal ini ditandai adanya kecenderungan guru dalam mengajarkan materi tersebut dengan metode ceramah secara klasikal. Dilandasi keinginan untuk mencari strategi pembelajaran yang lebih tepat dan efisien untuk meningkatkan hasil nilai penguasaan materi sumber daya alam pada siswa SDN Ngadirejo 03 inilah, maka  peneliti merasa perlu mengadakan penelitian tindakan kelas ini.

Peningkatan hasil belajar pada materi sumber daya alam yang diharapkan oleh peneliti adalah dengan langkah mengarahkan pembelajaran siswa aktif secara kelompok besar maupun dalam kelompok kecil.  Selain harapan yang telah disampaikan diatas  penelitian ini  diharapkan dapat merubah paradigma guru dalam melakukan pembelajaran dari  guru sebagai pusat belajar  agar beralih ke siswa.Guna mewujudkan harapan yang diinginkan oleh peneliti seperti di atas maka peneliti menerapkan strategi pembelajaran aktif dengan menggunakan teknik pembelajaran kelompok besar dan pembelajaran kelompok kecil.

Dalam penelitian ini, penulis mengambil mata pelajaran IPA sebagai objek penelitian. Sebagaimana diketahui bahwa IPA merupakan salah satu mata pelajaran dalam Ujian Akhir Sekolah Berstandar Nasional (UASBN) di tingkat sekolah dasar, oleh sebab itu guru dituntut untuk mampu meningkatkan kualitas hasil belajar siswa. Di sisi lain antusias peserta didik terhadap mata pelajaran ini sangat minim dibanding dengan mata pelajaran lain seperti pelajaran olahraga, kesenian dan ketrampilan.Untuk mengantisipasi kegagalan siswa dalam pembelajaran, maka diperlukan adanya strategi pembelajaran yang bisa menarik perhatian siswa sehingga timbul antusias yang tinggi selama proses pembelajaran berlangsung.

Dari masalah- masalah seperti diungkapkan di atas, maka dalam melakukan penelitian ini penulis mengambil judul “Upaya meningkatkan pemahaman siswa melalui Penggunaan Media Gambar dan Media Realita Siswa pada pelajaran IPA pokok bahasan Sumber Daya Alam  siswa kelas IV SDN Ngadirejo 03 Kecamatan Wonoasri”.

1. Identifikasi  Masalah

Berdasarkan hasil belajar siswa-siswa kelas IV SDN Ngadirejo 03 kecamatan Wonoasri kabupaten Madiun  pada mata pelajaran IPA tentang sumber daya alam dari 16 siswa hanya 4 siswa yang menguasai materi yang telah dibahas dengan nilai 75 ke atas. Hal ini menunjukkan bahwa tingkat penguasaanmateri hanya 25% sehingga belum memenuhi kriteria yang diharapkan yakni 75%. Permasalahan-permasalahan yang muncul dalam penulisan laporan ini dapat diidentifikasikan sebagai berikut :

    1. Proses KBM yang tidak efektif.
    2. Suasana kelas dalam proses KBM yang kurang menyenangkan.
    3. Siswa kurang antusias dalam mengikuti pelajaran.
    4. Saat guru bertanya tentang materi yang telah dibahas siswa tidak bisa menjawab pertanyaan yang diberkan.
    5. Hasil evaluasi belajar siswa dalam tes formatif tidak sesuai yang diharapkan.

Dari beberapa identifikasi masalah di atas perlu adanya perbaikan pembelajaran secepatnya sehingga hasil belajar siswa sesuai dengan yang diharapkan.

2. Analisis Masalah

Yang menjadi fokus perbaikan pembelajaran dalam hal ini adalah sebagai berikut:

    1. Cara mengajar dan strategi guru pada pelajaran IPA  kurang bervariasi.
    2. Siswa kurang termotivasi pada pembelajaran pelajaran IPA di kelas.
    3. Penggunaan media yang tidak maksimal serta guru kurang terampil menggunakannya dalam menjelaskan materi.
    4. Bahasa  yang digunakan guru dalam menjelaskan materi sulit dimengerti.
    5. Strategi pembelajaran yang digunakan guru tidak relevan dan kurang bervariasi.
    6. Penjelasan guru kurang lengkap dan rinci sehingga sulit dimengerti oleh siswa.
  1. B. Rumusan Masalah

Rumusan masalah yang akan dikaji pada penelitian ini adalah :

1        Bagaimana penggunaan media gambar dalam pembelajaran IPA tentang Sumber Daya Alam bagi siswa kelas IV SDN Ngadirejo 03 kecamatan Wonoasri Kaupaten Madiun?

2        Bagaimana dampak penggunaan media gambar dalam upaya meningkatkan pemahaman siswa pada mata pelajaran IPA tentang Sumber Daya Alam bagi siswa kelas IV SDN Ngadirejo 03 kecamatan Wonoasri Kabupaten Madiun?

  1. C. Tujuan Penelitian

Tujuan dari pada penelitian yang dilakukan pada siswa kelas IV SDN Ngadirejo 03 kecamatan Wonoasri ini adalah sebagai berikut :

1        Mendeskripsikan penerapan media gambar dalam pembelajaran IPA tentang sumber daya alam.

2        Mendeskripsikan dampak penggunaan media gambar dalam pembelajaran IPA tentang sumber daya alam.

  1. D. Manfaat Penelitian

Penelitian ini diharapkan dapat memberikan kontribusi pada pembelajaran IPA. Kontribusi yang diberikan dalam hal ini adalah sebagai berikut:

  1. Bagi Kepala Sekolah, hasil penelitian ini dapat dipergunakan sebagai masukan dalam perumusan kebijakan dalam upaya meningkatkan pendidikan di SDN Ngadirejo 03 kecamatan Wonoasri Kabupaten Madiun.
  2. Bagi siswa, penggunaan strategi pembelajaran aktif ini dapat lebih menyenangkan, mendorong, dan merangsang timbulnya antusiasme  siswa untuk belajar secara aktif dan kreatif .
  3. Bagi peneliti lain, hasil penelitian ini dapat dipergunakan untuk mengembangkan model pembelajaran yang dapat meningkatkan penguasaan pemahaman tentang materi pelajaran IPA khususnya pokok bahasan Sumber Daya Alam. Dari pengalaman tersebut diharapkan guru dapat mengembangkan kemampuannya untuk menerapkan pada pokok bahasan lain.

BAB II

KAJIAN PUSTAKA

  1. A. Kajian Materi Pembelajaran IPA

Untuk menanggapi kemajuan era global dan semakin pesatnya ilmu pengetahuan dan teknologi, kurikulum sains termasuk IPA terus disempurnakan untuk meningkatkan mutu pendidikan secara nasional. Agar tidak tertinggal dan untuk terus menyelaraskan dengan perkembangan jaman maka kita dituntut untuk terus memajukan ilmu pengetahuan tersebut.

Sehubungan dengan hal itu, sains memegang peran yang cukup signifikan dalam peningkatan kualitas sumber daya teknologi karena di dalamnya dipelajari berbagai sumber, asal, pemberdayaan serta pemanfaatan teknologi baik yang berasal dari alam maupun rekayasa manusia.

  1. 1. Pengertian IPA

Ilmu Pengetahuan Alam adalah istilah yang digunakan yang merujuk pada rumpun ilmu dimana obyeknya adalah benda-benda alam dengan hukum-hukum yang pasti dan umum, berlaku kapan pun dimana pun. Ilmu alam mempelajari aspek-aspek fisik & nonmanusia tentang Bumi dan alam sekitarnya. Ilmu-ilmu alam membentuk landasan bagi ilmu terapan, yang keduanya dibedakan dari ilmu sosial, humaniora, teologi, dan seni.

  1. 2. Fungsi IPA di Sekolah Dasar

Dalam kehidupan sehari-hari IPA berfungsi sebagai media untuk menguasai konsep dan manfaat IPA serta memberikan bekal pengetahuan untuk melanjutkan ke jenjang yang lebih tinggi.

  1. 3. Tujuan Pembelajaran

Adapun tujuan pembelajaran IPA di Sekolah Dasar adalah sebagai berikut:

  1. Untuk menekankan pemahaman tentang pengetahuan dan konsep-konsep IPA yang bermanfaat dalam kehidupan sehari-hari.
  2. Untuk membangun imaginasi dan rasa ingin tahu siswa dan agar bisa bersikap positif menanggapi kemajuan sains dan teknologi.
  3. Untuk meningkatkan kompetensi siswa untuk menyelidiki alam sekitarnya, memecahkan masalah dan membuat kesimpulan.
  4. Ikut serta dalam memelihara dan menjaga lingkungan alam.
  5. 4. Ruang Lingkup

Di tingkat sekolah dasar (SD), Ruang lingkup mata pelajaran IPA meliputi dua aspek diantaranya:

  1. Pemahaman konsep dan penerapannya dalam kehidupan.
  2. Penyelidikan atau penelitian, berkomunikasi ilmiah, pengembangan kreatifitas, dan pemecahan masalah, sikap dan nilai ilmiah sebagai kerja ilmiah.
  3. Pemahaman konsep dan penerapannya.

Pendek kata, untuk mencapai kesuksesan dalam pembelajaran IPA guru, siswa, alat peraga adalah faktor penting yang sangat mendukung keberhasilan. Selain itu penggunaan strategi pembelajaran yang relevan atau sesuai dengan materi pembelajaran juga merupakan faktor penunjang untuk bisa memahami materi pembelajaran yang disampaikan oleh guru.

  1. B. Hakikat Pemahaman dalam Pembelajaran

1. Pengertian Pemahaman

Pemahaman bermakna mengerti atau mengetahui. Dalam Kamus besar Bahasa Indonesia pemahaman berarti suatu proses perbuatan, cara memahami sesuatu agar mengerti benar atau mengetahui benar (depdikbud Balai Pustaka, 1989). Sedangkan dalam dunia pendidikan pemahaman bermakna kemampuan memahami arti sesuatu bahan pelajaran seperti menafsirkan, menjelaskan, meringkas atau menerangkan suatu pengertian (Ali.M, 1992).  Dari pengertian tersebut dapat disimpulkan bahwa pemahaman adalah kemampuan dalam mendapatkan jalan keluar   terhadap suatu masalah. Oleh sebab itu seorang guru diharapkan membantu anak didiknya untuk bisa mengerti tentang ciri-ciri suatu obyek sehingga nantinya anak didik tersebut mampu menjelaskan tentang obyek yang dikenal atau diketahuinya.

2. Pentingnya Pemahaman Dalam Pembelajaran

Tujuan utama pembelajaran adalah keberhasilan yang maksimal pada peserta didik terhadap materi yang telah diajarkan. Keberhasilan tersebut meliputi pemahaman materi pembelajaran yang pada umumnya diukur dengan nilai. Berhasil tidaknya seorang peserta didik dapat dilihat dari nilai yang diperolehnya setelah melalui tes atau uji coba. Suatu pembelajaran bisa dikatakan berhasil bilamana tujuan instruksionalnya berhasil dicapai, oleh karena itu untuk mengetahuinya guru perlu mengadakan tes yang diberikan di akhir pembelajaran. Penilaian keberhasilan itu sendiri didasarkan pada konsep 3 ranah, yakni kognitif, afektif dan psikomotorik dengan mengacu pada tujuan pembelajaran sebagai  feed back bagi guru dalam perbaikan perencanaan selanjutnya.

3.Cara meningkatkan Pemahaman

Usaha yang dapat dilakukan guru untuk meningkatkan pemahaman pada anak didiknya tentang materi yang telah diajarkan diantaranya :

  1. Membuat rencana pembelajaran sesuai materi yang akan diberikan beserta tujuan instruksionalnya.
  2. Menggunakan metode yang sesuai dengan materi pembelajaran.
  3. Menjelaskan materi pelajaran sesuai dengan TIK ( Tujuan Instruksional Khusus).
  4. Menciptakan suasana yang untuk memancing motifasi dan kreatifitas anak didik.
  5. Memberi motifasi pada siswa agar lebih aktif, kreatif dan lebih rajin belajar.
  6. Memberi kesimpulan secara garis besar tentang materi yang telah diajarkan.
  7. Memberi evaluasi untuk mengukur sejauh mana pemahaman siswa terhadap materi pembelajaran.
  8. Menggunakan strategi mengajar yang bervariasi sehingga tidak membuat suasana kelas monoton dan membuat anak didik merasa bosan.
  9. C. Kajian Teori
    1. 1. Strategi Pembelajaran

Dalam proses balajar mengajar tentunya ada tujuan yang harus dicapai. Oleh sebab itu, untuk pencapaian tujuan tersebut kita perlu menyampaikan materi  yang terdiri dari berbagai konsep tepat pada sasaran yakni  membuat siswa mengerti dan paham betul tentang apa yang mereka dapatkan. Sehubungan dengan hal itu   diperlukan pula suatu pendekatan dan strategi tertentu. Pendekatan yang dimaksud diantaranya seperti pemecahan masalah , latihan soal , praktik, hafalan dan mungkin dengan pendekatan yang lainnya.

Andi Hakim Nasution menuturkan bahwa dalam suatu pengajaran yang berkaitan dengan suatu materi kurikulum tertentu prinsip keterlaksanaan dipenggaruhi oleh empat komponen pokok yaitu pembawa materi , penyaji materi, pendekatan dan penerima materi ( 1988 : 243 ). Pengaturan materi kurikulum tersebut dinamakan strategi belajar mengajar.

Pada pengajaran IPA sampai sekarang ini masih menggunakan strategi belajar mengajar langsung dan sempit. Maksudnya adalah materi pelajaran yang dibawakan guru itu sempit ( dikumpulkan oleh guru itu sendiri ) , penyajinya guru itu sendiri pendekatan yang digunakan deduktif dan siswa yang menerimanya adalah kelompok besar, padahal bila dilihat dari kombinasi yang ada dalam strategi pembelajaran paling tidak ada 81 kombinasi yang dapat dilaksanakan dalam pengajaran.

2. Media pembelajaran

Media pembelajaran adalah alat bantu pemebelajaran yang bertujuan unutk membantu keberhasilan proses pembelajaran. Penggunaan media yang relevan merupakan faktor penunjang yang paling penting dalam proses pembelajaran. Berkaitan dengna hal ini tentunya pemilihan media yang digunakan harus sesuai dengan materi yang sedang dibahas dalam proses belajar mengajar. Dick dan Carey mengungkapkan bahwa pemilihan media pembelajaran berdasrkan pada empat faktor yakni ketersediaan sumber setempat; adanya dana, tenaga dan fasilitas; kepraktisan, keluwesan, dan ketahanan; serta efektifitas biaya dalam waktu lama ( 1978). Dari pengertian tersebut dapat disimpulkan bahwa pemilihan media juga harus memperhatikan kemampuan pengadaan media yakni berkaitan dengan biaya yang harus dikeluarkan dan waktu yang harus dihabiskan dengan media ynag sedang digunakan. Oleh sebab itu pemilihan media hendaknya disesuaikan dengan tujuan, kemampuan, kepraktisan, ketepatgunaan dan kefektifan waktu yang digunakan.

  1. a. Media Gambar

Sesuai dengan pengertiannya media adalah suatu cara atau lat yang digunakan untuk menyampaikan pesan dari sumber pesan kepada penerima pesan yang berlansung dalam proses pendidikan. Demikian pula media gambar. Media gambar adalah media visual diam yang berupa gambar cetak diam yang pembuatannya melalui proses pencetakan yang bertujuan membantu memperjelas objek materi yang dibahas dalam pembelajaran.  Media gambar menyajikan fakta, ide atau gagasan melalui kata-kata, kalimat, angka-angka, dan simbol atau gambar grafis yang biasa digunakan untuk menarik perhatian, memperjelas sajian ide dan mengilustrasikan fakta-fakta sehingga menarik dan diingat orang. Gagne mengungkapkan bhawa media ynag berupa berbagai jenis komponen dalam lingkungan pendidikan siswa yang dapat merangsang siswa untuk belajar (AECT,1977). Dari pengertian yang diungkapkan Gagne memperjelas bahwa media mempunyai peran yang relatif penting dalam proses penyampaian materi karena dengan media yang digunakan akan membantu  mengingat materi yang dibahas dalam proses belajar.

Namun demikian penggunaan media juga harus direncanakan dan disesuaikan dengan prosedur pembelajaran yang terarah dan terinci. Berikut ini adalah saran-saran yang dapat digunakan guru untuk mengarah pada prosedur  pembelajaran yang terarah yang  dapat membantu mengoptimalkan  siswa dalam  belajar:

1)      Siapkan semua strategi, metode dan peralatan  yang akan digunakan di dalam ruang kelas sebelum memulai pembelajaran.

2)      Buatlah formasi letak tempat duduk siswa sesuai dengan kompetensi siswa.

3)      Manfaatkan pertemuan pertama dengan siswa untuk perkenalan atau pembukaan atas materi yang akan dibahas. Secara spesifik tunjukkan cara-cara belajar IPA yang baik, kemudian buatlah kesepakatan terkait aturan-aturan  yang harus dipatuhi oleh peserta didik, misal siswa yang tidak mengerjakan diberi sangsi.

4)      Mulailah proses belajar mengajar dengan materi yang ringan  tetapi menantang yang dapat merangsang siswa turut aktif berfikir. Kemudian masuk pada materi yang akan kita ajarkan dengan senantiasa melibatkan siswa dalam proses belajar mengajar. Misalkan senantiasa mengajukan pertanyaan-pertanyaan tentang materi yang kita ajarkan agar siswa lebih mudah memahami materi yang kita berikan.

5)      Selalu memulai dan mengakhiri pembelajaran tepat waktu serta dengan salam yang menghangatkan, yaitu salam penuh kasih dan hormat.

6)      Pada saat membuka pelajaran hendaknya mengulas sejenak materi sebelumnya agar siswa senantiasa ingat tentang materi tersebut.

7)      Isilah proses pembelajaran dengan menggunakan strategi pembelajaran yang relevan serta menjelaskan materi sejelas mungkin hingga anak didik betul-betul paham.

8)      Ajaklah anak didik untuk aktif dan kreatif dalam pembelajaran misalnya dengan cara meminta siswa untuk menyebutkan contoh-contoh sumber daya alam yang bisa dinikmati manusia.

9)      Setelah menjelaskan materi alangkah baiknya memberikan evaluasi untuk anak didik untuk mengukur pemahaman mereka.

10)  Jelaskanlah kembali materi yang telah dibahas apabila banyak siswa yang belum paham.

11)  Sebelum menutup pelajaran berilah kesimpulan secara garis besar terhadap materi yang telah dibahas.

  1. b. Prosedur Pembelajaran Aktif

Proses pembelajaran di kelas dapat dipandang sebagai tiga bagian kegiatan yang terurut, yaitu: kegiatan awal (pendahuluan), kegiatan inti, dan kegiatan akhir (penutup). Dengan demikian, strategi pembelajaran aktif dapat dirumuskan sebagai prosedur kegiatan yang mengaktifkan siswa pada setiap bagian kegiatan secara terurut. Prosedur tersebut dapat dirumuskan sebagai berikut:

1) Prosedur Mengaktifkan Siswa Belajar IPA Pada Awal Pembelajaran

Dimensi pertama dalam peristiwa belajar IPA adalah membangun sikap dan persepsi positif terhadap belajar dan IPA sebagai obyek belajar. Kesiapan mental untuk terlibat dalam pembelajaran mutlak dicapai dalam mengaktifkan siswa belajar IPA, oleh karenanya kegiatan membangunkan sikap dan persepsi positif siswa harus dilakukan sejak awal dimulainya pembelajaran. Hal yang harus dilakukan guru pada awal pembelajaran adalah membangunkan minat, membangunkan rasa ingin tahu, dan merangsang siswa untuk berfikir. Bila minat siswa, rasa ingin tahu siswa telah bangkit, serta  siswa telah terangsang untuk berfikir ini berarti siswa telah siap secara mental untuk terlibat secara aktif dalam pembelajaran IPA,  dan bila terjadi sebaliknya berarti secara mental siswa belum siap terlibat dalam pembelajaran.

Dengan memodifikasi strategi berbagi pengetahuan secara aktif, Silberman  (2006:100-102), mengawali kegiatan pembelajaran aktif dengan prosedur sebagai berikut:

a)      Tentukan rentang waktu yang pasti untuk kegiatan awal pembelajaran.

b)      Ucapkan salam pembuka yang menghangatkan siswa.

c)      Sediakan daftar pertanyaan yang terkait dengan materi pelajaran IPA yang akan diajarkan. Misalnya:

(1)   kata-kata untuk didefinisikan,

(2)   soal-soal sederhana dari materi yang dibahas,

(3)   pertanyaan tentang aplikasi IPA sederhana dalam kehidupan sehari-hari.

b)      Perintahkan siswa untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan itu sebaik yang mereka bisa dan dalam waktu yang telah ditentukan.

c)      Perintahkan siswa untuk menyebar di kelas, menanyakan kepada temannya jawaban pertanyaan yang dia sendiri tidak tahu jawabannya, Doronglah siswa untuk saling membantu.

d)      Perintahkan untuk kembali ke tempat semula dan gunakan teknik tanya jawab untuk membahas jawaban yang mereka dapatkan.

e)      Gunakan pertanyaan-pertanyaan arahan sebagai upaya merangsang berfikir siswa menjawab pertanyaan yang tak satupun siswa bisa menjawab.

f)        Gunakan informasi-informasi yang diperoleh dalam kegiatan ini sebagai sarana untuk memperkenalkan topik-topik penting materi pelajaran dalam kegiatan inti.

1) Prosedur Mengaktifkan Siswa Belajar IPA Pada Kegiatan Inti Pembelajaran

Telah dikemukakan di atas bahwa pendidikan IPA di segala jenjang dimaksudkan untuk membangun pengetahuan, keterampilan dan sikap terkait dengan pengetahuan alam sekitar. Pembelajaran aktif dalam pendidikan IPA dapat berlangsung dalam proses penyelidikan atau proses bertanya. Siswa dikondisikan dalam sikap mencari (aktif) bukan sekedar menerima (reaktif). Kondisi ini terjadi jika siswa dilibatkan dalam tugas dan kegiatan yang secara harus mendesak mereka untuk berfikir, bekerja, dan merasakan.

Berdasarkan pendapat di atas, upaya yang harus dilakukan guru untuk mengaktifkan siswa belajar IPA adalah: (1) mengkondisikan situasi belajar IPS menjadi kegiatan siswa mengupayakan pemecahan masalah atau mencari jawaban atas pertanyaan-pertanyaan, baik masalah atau pertanyaan yang diajukan guru maupun siswa; (2) mendorong ketertarikan siswa untuk mendapatkan informasi atau menguasai keterampilan melalui pemecahan masalah atau mencari jawaban atas pertanyaan; (3) mendesak siswa secara halus untuk bergerak mengkaji atau menilai suatu jawaban pertanyaan, suatu pendapat (gagasan),  atau suatu penyelesaian masalah. Guru dapat menggunakan berbagai strategi dengan berbagai teknik untuk membuat siswa lebih aktif dalam kegiatan inti yakni dengan mengamati penggunaan media realita dan juga merangsanag mereka untuk berpikir aktif dengan melibatkan siswa dalam kegiatan pembelajaran. Berikut ini adalah strategi yang dapt digunakan guru untuk membuat siswa aktif belajar dalam materi sumber daya alam :

a) Menstimulir rasa ingin tahu siswa

Prosedur

(1)   Ajukan pertanyaan atau masalah yang kompleks (sukar) atau yang mempunyai beberapa kemungkinan jawaban untuk menstimulasi keingintahuan siswa tentang materi yang akan diajarkan.

Pertanyaan yang disajikan haruslah merupakan pertanyaan yang menurut guru ada beberapa siswa yang mengetahui jawabannya atau bagian dari jawaban. Pertanyaan dapat berupa pertanyaan sehari-hari, cara melakukan sesuatu, definisi, cara kerja (prosedur).

(2)   Doronglah siswa untuk berfikir, membuat skema atau diagram, dan membuat dugaan umum yakni denagn menggunakan frase seperti “ coba tebak” atau “coba jawab”, “coba sebutkan”.

(3)   Jangan buru-buru memberikan tanggapan. Tampung semua dugaan siswa. Ciptakan rasa penasaran tentang jawaban yang sesungguhnya.

Sebagai variasi, buatlah siswa berpasangan dan membuat dugaan secara kolektif.

(4)   Gunakan pertanyaan itu untuk mengarahkan siswa kepada apa yang hendak diajarkan. Anda perlu memastikan bahwa siswa lebih menaruh perhatian terhadap pelajaran dibanding biasanya.

b) Menstimulir siswa untuk belajar mandiri

Prosedur

(1)   Bagikan kepada siswa bahan ajar, disertai beberapa pertanyaan atau masalah yang berurutan dari yang sederhana sampai yang kompleks.

(2)   Perintahkan siswa untuk mempelajari bahan ajar secara mandiri atau berpasangan.

(3)   Perintahkan siswa untuk menggaris bawahi pada materi yang belum mereka pahami. Anjurkan untuk menggaris bawahi kata-kata tentang materi tersebut sebanyak mungkin, misal ’sumber daya laut’; ’ benda yang terbuat dari kayu’ dan lain sebagainya.

(4)   Perintahkan siswa untuk mengemukakan pertanyaan secara tertulis, misalnya dengan membuat pertanyaan tentang frase atau kata yang mereka garis bawahi diantaranya :

  • ”apakah sumber daya laut?”
  • ”apakah contoh benda yang terbuat dari kayu?”
  • ”apa saja benda yang terbuat dari logam?” dan seterusnya.

Kemudian beri kesempatan siswa lain untuk menanggapinya. Lakukan seterusnya sehingga semua pertanyaan siswa dibahas.

(5)   Berikan penjelasan sebagai sarana pemantapan dari jawaban atas pertanyaan siswa.

(6)   Perintahkan siswa menyelesaikan masalah dalam bahan ajar secara mandiri atau berpasangan.

(7)   Perintahkan siswa untuk mengemukakan jawaban masalah. Berikan kesempatan siswa lain memberikan komentar atau mengemukakan kemungkinan jawaban lain.

(8)   Berikan pemantapan jawaban atas pertanyaaan tersebut.

Jika guru merasa bahwa siswa akan mengalami kesulitan mempelajari sendiri bahan ajar, berikan sejumlah informasi yang mengarahkan mereka.

3) Strategi menutup pembelajaran IPA

Pada kegiatan menutup pembelajaran dapat dimanfaatkan guru untuk:

a)      memotivasi siswa untuk mempelajari ulang bahan ajar dan atau menyelesaikan tugas rumah secara mandiri atau kelompok,

b)      menyimpulkan secara garis besar materi yang telah dibahas,

c)      memberikan informasi bahan ajar untuk pertemuan berikutnya,

d)      mendapatkan penilaian dari siswa guna perbaikan proses pembelajaran, dan

e)      memberikan salam penutup.

Cara yang baik untuk membelajarkan membuat ikhtisar bahan ajar adalah memberikan kesempatan kepada siswa untuk membuat ikhtisar dan menyajikan ikhtisar kepada siswa lain. Strategi berikut dapat digunakan guru, misalnya gunakan pertanyaan panduan, sebagai berikut:

(1)   Apa judul materi yang baru saja dipelajari?

(2)   Tuliskan definisi atau kesimpulan yang baru saja dipelajari secara terurut!

C Kerangka Pemikiran.

Dengan menggunakan media gmabar dan realita maka seorang siswa akan selalu mengingat materi yang telah mereka terima dalam pembelajaran karena pembelajaran yang menyenangkan , sehingga dengan cara ini materi yang dibahas akan selalu berkesan dalam pemikirannya dan konsep yang harus dikuasai siswa akan mudah diterimanya hal ini sesuai dengan prinsip learning by watching yang menyatakan bahwa pembelajaran akan cepat dikuasai siswa dengan siswa tersebut ikut melihat atau mengamati media yang relevan dengan materi dalam pembelajaran.

Bertolak dari pemikiran bahwa membawa siswa yang aktif dalam pembelajaran akan memudahkan siswa menerima konsep yang harus dikuasainya maka secara otomatis langkah membawa siswa aktif dalam belajar ini merupakan suatu langkah yang efektif untuk menyampaikan suatu materi ajar.

D Hipotesis Tindakan

Dari uraian pada kajian teori yang telah dipaparkan maka dapat disusun hipotesis tindakan sebagai berikut: ” Melalui penggunaan media gambar pemahaman terhadap materi pelajaran IPA materi sumber daya alam pada siswa kelas IV SDN Ngadirejo 03 kecamatan Wonoasri  tahun pelajaran 2008 / 2009 akan meningkat dan memperoleh hasil belajar sesuai kriteria yang diharapkan.”

BAB III

PELAKSANAAN PERBAIKAN PEMBELAJARAN

  1. A. Lokasi dan Subyek Penelitian

Perbaikan pembelajaran dilakukan di kelas IV SDN Ngadirejo 03 Kecamatan Wonoasri Kabupaten Madiun  yang diikuti oleh 18 siswa yang terdiri dari 10 siswa perempuan dan 8 siswa laki-laki.

1. Pelaksanaan Perbaikan Pembelajaran siklus I

Mata Pelajaran             : IPA

Tempat                         : SDN Ngadirejo 03 Kecamatan Wonoasri

Kabupaten Madiun

Kelas                           : IV ( empat )

Waktu                          : 1 X 35 menit

Tanggal                        : 24 Maret 2009

2. Pelaksanaan Perbaikan Pembelajaran siklus II

Mata Pelajaran             : IPA

Tempat                         : SDN Ngadirejo 03 Kecamatan Wonoasri

Kabupaten Madiun

Kelas                           : IV (empat )

Waktu                          : 1 X 35 menit

Tanggal                        : 31 Maret 2009

  1. B. Prosedur Penelitian

1. Perbaikan Siklus I

Dalam penelitian ini penulis menggunakan teknik pembelajaran yang bersifat observasi langsung. Artinya guru secara langsung berada pada aktifitas mengajar yang bertujuan untuk mengumpulkan data yang diperlukan dalam menjawab masalah yang ada. Di samping itu, guru juga  menggunakan sistem putaran atau siklus. Siklus ini akan berakhir apabila pembelajaran yang dihadapi telah tuntas. Dalam pelaksanaan perbaikan pembelajaran IPA ini penulis menggunakan 2 siklus.

Berikut ini adalah kegiatan merancang dan melaksanakan perbaikan pembelajaran :

Siklus Pelaksanaan Perbaikan Pembelajaran

Keterangan :     M : Merencanakan

L : Pelaksanaan

R : Refleksi

  1. a. Rencana Perbaikan Pembelajaran

Hasil analisis dan perumusan masalah tersebut diatas menunjukkan bahwa program perbaikan pembelajaran dilakukan oleh guru untuk meningkatkan pemahaman siswa dalam materi pelajaran IPA.

Untuk mencapai tujuan  pembelajaran yang optimal berikut ini adalah persiapan yang perlu dilakukan sebelum memulai proses pembelajaran :

  • Membuat skenario perbaikan pembelajaran.
  • Mempersiapkan sarana dan fasilitas yang digunakan dan mendukung pelaksanaan tindakan.
  • Mempersiapkan cara observasi dan membuat kesepakatan dengan teman sejawat tentang hal-hal yang berkaitan dengan observasi.
  • Melaksanakan simulasi rencana perbaikan pembelajaran siklus I.
  1. b. Pelaksanaan Perbaikan Pembelajaran Siklus I
    1. Dalam perbaikan pembelajaran siklus I kemampuan awal anak dirangsang dengan pertanyaan-pertanyaan. Hal ini dilakukan untuk merangsang kemampuan awal mereka agar secara mental lebih siap menerima materi yang akan diberikan guru sebelum memasuki kegiatan inti.
    2. Setelah guru memberikan apersepsi, kemudian menyampaikan tujuan pembelajaran pada hari itu agar siswa mendapat gambaran yang jelas tentang materi yang akan dipelajari.Guru menyipakan alat-alat pembelajaran sperti media gambar atau lukisan.
    3. Guru menjelaskan materi dengan bantuan alat peraga berupa media gambar.
    4. Siswa mengamati dan menyimak penejelasan guru.
    5. Guru menyuruh siswa untuk maju ke depan kelas dan menunjukkan contoh sumber daya alam melalui media gambar.
    6. Guru membagi siswa menjadi 5 kelompok dan membagikan Lembar Kegiatan Siswa.
    7. Guru membagi lembar kerja kelompok.
    8. Masing-masing kelompok mengisi lembar kegiatan berdasar hasil pengamatan.
    9. Guru membimbing siswa berdiskusi untuk mengerjakan lembar soal dan memberi pengarahan bila ada kelompok yang mengalami kesulitan. Sambil mengamati guru meniberi penilaian proses terhadap diskusi kelompok .
    10. Tiap kelompok menyimpulkan hasil diskusi dengan kelompoknya.
    11. Hasil kerja siswa dikumpulkan dan dibahas bersama guru.
    12. Guru dan siswa membahas hasil kerja kelompok bersama.

  1. c. Pengumpulan Data

1. Metode Pengumpulan Data dan Instrumen

Telah jelas bahwa dalam penelitian metode merupakan faktor yang sangat penting yang menjadi tonggak berhasil atau tidaknya suatu penelitian. Penggunaan metodologi yang tepat dan sesuai dengan masalah dalam penelitian akan membuahkan hasil yang sempurna serta dapat dipertanggungjawabkan kebenarannya. Di samping itu kesalahan-kesalahan yang terjadi saat penelitian dapat dikurangi seminimal mungkin.

Seperti telah diuraikan di atas bahwa metodologi merupakan komponen yang sangat penting, dengan kata lain metode penelitian adalah suatu ilmu pengetahuan yang mengulas secara rinci tentang tata cara menggandakan penelitian sehingga dapat dipertanggungjawabkan kebenarannya.

Dalam penelitian ini peneliti menggunakan metode-metode sebagai berikut :

a). Observasi

Secara umum observasi adalah pengamatan dengan tujuan mengumpulkan data yang valid dan akurat yang diperlukan untuk menjawab masalah tertentu yang timbul dalam penelitian. Observasi ini bertumpu pada proses dan hasil serta pengaruh pembelajaran yang telah dilakukan sebagai  tindakan perbaikan terhadap peserta didik. Pengaruh serta proses yang telah diamati diidentifikasi kemudian hasilnya akan digunakan untuk menyusun kembali langkah-langkah perbaikan. Dalam melakukan obsevasi ini diperlukan adanya beberapa instrumen diantaranya:

  • Rencana Perbaikan Pembelajaran ( terlampir)
  • Lembar Pengamatan Siswa ( terlampir)
  • Lembar Observasi guru ( terlampir)

b). Tes

Tes merupakan alat ukur kemampuan yang berupa seperangkat pertanyaan-pertanyaan yang digunakan unutk mengukur apakah materi yang diberikan sudah atau belum berhasil. Menurut Suharsimi Arikunto tes adalah pertanyaan atau latihan dan alat lain yang digunakan untuk mengukur keterampilan, pengetahuan, intelejensi atau bakat-bakat yang dimiliki oleh individu atau kelompok (1985:105). Oleh sebab itu peneliti menggunakan tes prestasi dalam penelitian ini guna mengetahui sejauh mana keterampilan siswa tentang materi yang dibahas serta mengukur tingkat pencapaian seorang siswa setelah mempelajari sesuatu. Instrumen-instrumen yang digunakan peneliti dalam tes adalah sebagai berikut:

  • Lembar kegiatan siswa ( terlampir )
  • Lembara evaluasi akhir ( terlampir )
  • Lembar analisis ( terlampir )

2. Data Hasil Pengamatan

Peneliti dalam pelaksanaan perbaikan pembelajaran ini, peneliti dibantu oleh teman sejawat yang mengamati berbgai hal  yang menjadi kendala dalam proses pembelajaran di mana selama proses pembelajaran siswa kurang respek pada materi yang dibahas, guru kurang kreatif dalam menggunakan alat peraga, tidak mendorong siswa untuk lebih antusias dan kreatif sehingga bila diberi pertanyaan oleh guru siswa tidak dapat menjawab dengan benar, selain itu media realita yang digunakan tidak bisa mengundang minat siswa untuk bertanya atau mengungkapkan pendapat dikarenakan penjelasan guru kurang bisa dimengerti oleh siswa.

Berikut ini adalah hasil pengamatan yang dilakukan oleh teman sejawat:

ASPEK YANG DIAMATI

1. Mengelola ruang dan fasilitas pembelajaran :

□       Dipersiapkan sebelumnya

□       Tidak dipersiapkan sebelumnya

2. Kegiatan awal :

□       Cerita kejadian

□       Demonstrasi

□       Refisi / melengkapi pelajaran yang lalu

3. Penggalian pengetahuan awal siswa :

□       Tidak □       Kurang □       Baik

4.Pembelajaran berhubungan dengan lingkungan kehidupan sehari-hari / aplikasi :

□       Tidak

□       Kadang-kadang

□       Selalu

5. Mengarahkan siswa agar aktif dalam pembelajaran :

□       Tidak

□       Kadang-kadang

□       Selalu

6. Perhatian terhadap siswa

□       Tidak

□       Sebagian

□       Seluruhnya

7. Suasana pengajaran

□       Tegang

□       Menyenangkan

□       Membosankan

8.  Siswa aktif bertanya dan menanggapi pertanyaan guru

□       Tidak

□       Sebagian

□       Seluruhnya

9.  Menanggapi pertanyaan dan respon siswa

□       Baik

□       Cukup

□       Kurang

10.  Minat anak terhadap pelajaran

□       Baik

□       Cukup

□       kurang

11.  Pertanyaan yang diajukan guru

□       Tidak relevan

□       Relevan

□       Bervariasi

12.   Penggunaan alat peraga yang tersedia

□       Baik

□       Kurang

13.  Jenis media yang digunakan

□       Tidak ada

□       1 jenis

□       Lebih dari 1

14.  Metode yang digunakan dalam pembelajaran

□       Tepat

□       Kurang tepat

15.  Bahasa yang digunakan guru

□       Jelas dan sedehana

□       Sulit dimengerti

16.  Penguasaan materi

□       Baik

□       Cukup

□       Kurang

17.  Kegiatan pemantapan

□       Soal evaluasi

□       Membuat ringkasan

□       Pekerjaan rumah

□       Tidak ada

18.  Pemberian penguatan oleh guru

□       Baik

□       Kurang

19.  Waktu pengajaran

□       Kurang

□       Cukup

□       Lebih sebab kehabisan materi

Lembar Pengamatan Siswa Siklus I

No Nama

Kelompok

Keaktifan Kerja

sama

Ketepatan jawaban Skor nilai
1 2 3 1 2 3 1 2 3 4
1. Kelompok I 5 50
2. Kelompok II 8 80
3. Kelompok III 7 70
4. Kelompok IV 5 50
5 Kelompok V 8 80

Penskoran:

Keaktifan:

1.Selama berdiskusi siswa hanya bersikap semaunya sendiri dan masa bodoh.

2. Selama berdiskusi hanya sebagian siswa yang bertanya atau mengajukan usul

3. Selama berdiskusi semua anggota aktif dan sering bertanya atau mengajukan usul

Kerjasama :

1. Apabila dalam mengeerjakan tugas hanya 1 anak yang aktif

2.Apabila dalam mengerjakan tugas hanya sebagian anak yang bekerjasama

3.Apabila dalam mengerjakan tugas semua anggota kelompok selalu bekerjasama.

Ketepatan Jawaban :

1. Bila jawaban yang deberikan siswa tidak sesuai dengan materi

2. Bila jawaban yang diberikan berhubungan dengan materi namun tidak sempurna atau kurang sesuai dengan jawaban yang diinginkan.

3. Bila jawaban siswa sesuai dengan yang diharapkan namun kurang lengkap

4. Bila jawaban yang diberikan siswa sesuai dengan yang diharapkan serta lengkap dan rinci.

3. Data nilai Evaluasi Akhir

Hasil evaluasi akhir mata pelajaran sains tentang kenampakan permukaan bumi pada pembelajaran perbaikan siklus I jumlah siswa kelas IV sebanyak 16 anak dengan urutan nilai sebagai berikut :

No Nama Siswa Sebelum

Siklus I

Ket Siklus I Ket
1

2

3

4

5

6

7

8

9

10

11

12

13

14

15

16

Mutinah

Rajin

Akbar Sidik A

Arul

Ayu

Dian

Endrik cahyono

Galang

Ilham

Indah

Prasetyo

Siti Nur.K

Sri Lestari

Susanto

Thalia

Suchi

30

40

80

50

70

50

50

80

50

40

40

50

70

50

85

85

Belum

Belum

Berhasil

Belum

Belum

Belum

Belum

Berhasil

Belum

Belum

Belum

Belum

Belum

Belum

Berhasil

Berhasil

60

50

85

60

75

75

70

85

70

70

70

60

75

60

90

90

Belum

Belum

Berhasil

Belum

Berhasil

Berhasil

Belum

Berhasil

Belum

Belum

Belum

Belum

Berhasil

Belum

Berhasil

Berhasil

4. Refleksi

Berdasarkan pengamatan teman sejawat dan hasil renungan guru setelah melaksanakan pembelajaran sains siklus I diperoleh hasil sebagai berikut :

  • Guru belum terampil menggunakan alat peraga
  • Perhatian guru pada siswa hanya sebagian / tidak keseluruhan
  • Alat peraga yang digunakan sangat terbatas hanya 1 jenis
  • Bahasa yang digunakan guru sulit dimengerti
  • Kurang adanya media yang menunjang atau relevan dengan materi pelajaran

2. Perbaikan Siklus II

Teknik yang digunakan dalam perbaikan pembelajaran bersifat observasi langsung. Artinya guru secara langsung berada pada aktifitas mengajar. Tujuan dari observasi ini untuk mengumpulkan data yang diperlukan dalam menjawab masalah yang ada. Selain itu, guru menggunakan sistem putaran atau siklus. Siklus ini akan berakhir apabila pembelajaran yang dihadapi telah tuntas. Dalam pelaksanaan perbaikan pembelajaran SAINS ini penulis menggunakan 2 siklus.

  1. a. Rencana Perbaikan Pembelajaran

Berdasarkan hasil analisis dan perumusan masalah tersebut diatas, maka program perbaikan pembelajaran dilakukan sebagai upaya guru untuk meningkatkan pemahaman siswa dalam mteri pelajaran .

Sebelum melaksanakan tindakan dalam proses pembelajaran perlu melakukan berbagai persiapan antara lain:

  • Membuat skenario perbaikan pembelajaran.
  • Mempersiapkan sarana dan fasilitas yang digunakan dan mendukung pelaksanaan tindakan.
  • Mempersiapkan cara mengobservasi dan membuat kesepakatan dengan teman sejawat tentang hal-hal yang berkaitan dengan observasi.
  • Melaksanakan simulasi rencana perbaikan pembelajaran siklus I.
  1. b. Pelaksanaan Perbaikan Pembelajaran Siklus II
  2. a.    Pada awal pelaksanaan kegiatan belajar mengajar siklus I dimulai dengan pertanyaan-pertanyaan untuk merangsang kemampuan awal agar siswa mempersiapkan mentalnya sebelum memasuki kegiatan inti.

b. Guru menyipakan alat-alat pembelajaran sperti media gambar atau lukisan.

c. Setelah guru memberikan apersepsi, kemudian menyampaikan tujuan pembelajaran pada hari itu agar siswa mendapat gambaran yang jelas tentang materi yang akan dipelajari.

d. Guru menulis tujuan instruksional khusus tentang materi yang dipelajari.

e.  Pada kegiatan inti siswa diminta mencari contoh-contoh sumber daya alam yang ada di lingkungan sekitar  kemudian menyuruh siswa maju ke depan untuk menyebutkan contoh sumber daya alam yang di lingkungan mereka dan mereka manfaatkan sehari-hari.

f.  Guru menjelaskan materi dengan bantuan alat peraga berupa media gambar.

g. Siswa mengamati dan menyimak penejelasan guru.

h. Guru membagi siswa menjadi 5 kelompok dan membagikan Lembar Kegiatan Siswa. Siswa mendengarkan langkah-langkah kerja kelompok yang dijelaskan guru.

  1. Guru menyuruh salah satu siswa memperlihatkan contoh sumber daya alam ke depan kelas.

j.  Guru menyuruh siswa yang lain mengamati apakah gambar yang ditunjukkan temannya sudah benar atau belum .

k.Guru membagi lembar kerja kelompok.

  1. Masing-masing kelompok mengisi lembar kegiatan berdasar hasil pengamatan.
  2. Guru membimbing siswa berdiskusi untuk mengerjakan lembar soal dan memberi pengarahan bila ada kelompok yang mengalami kesulitan. Sambil mengamati guru meniberi penilaian proses terhadap diskusi kelompok .

n. Tiap kelompok menyimpulkan hasil diskusi dengan kelompoknya.

  • o.Hasil kerja siswa dikumpulkan dan dibahas bersama guru.

p.Guru dan siswa membahas hasil kerja kelompok bersama.

q. Guru mengadakan penilaian dengan menggunakan lembar pengamatan. Masing-masing kelompok mempresentasikan hasil pengamatan di depan kelas  dan didengarkan kemudian ditanggapi kelompok lain.

r.   Guru bersama siswa menyimpulkan hasil diskusi. Selanjutnya guru menyuruh beberapa anak untuk menyebutkan contoh sumber daya alam di sekitar mereka.

s. Tahap kegiatan akhir pembelajaran yakni siswa dibantu dan dituntun guru oleh guru untuk menyimpulkan secara garis besat materi pelajaran kemudian mencatatnya di buku tulis. Langkah selanjutnya guru memberikan soal-soal tertulis untuk dikerjakan siswa, hal ini dilakukan untuk melihat sejauh mana  kemampuan pemahaman siswa terhadap materi yang telah dibahas.  Setelah selesai mengerjakan, soal-soal tersebut kemudian ditukar antara siswa satu dengan lainnya dan dibahas bersama. Guru menganalisis hasil tes untuk mengukur soal mana yang mudah ataupun sulit bagi siswa. Selanjtnya siswa diberi tes individu untuk mengukur pemahaman mereka. Adapun pertanyaan yang diberikan adalah sebagai berikut :

  • Apa yang dimaksud dengan sumber daya alam?
  • Sebutkan macam-macam sumber daya alam beserta contohnya?
  • Sebutkan sumber daya alam yang bisa diperbarui ?
  • Sebutkan contoh sumber daya yang biasa digunbakan oleh manusia sehari-hari?
  • Sumber daya apa yang bisa diperoleh dari laut?

t.  Setelah hasil tes diketahui, siswa-siswa yang belum berhasil mencapai target nilai yang diinginkan diberikan tes final, sedangkan bagi  siswa yang telah berhasil mencapai target nilai guru menyuruh mereka untuk memberikan contoh sumber daya alam baik yang bisa diperbaiki maupun tidak bisa diperbaiki.

  1. c. Pengumpulan Data

1. Metode Pengumpulan Data dan Instrumen

Metode penelitian merupakan komponen yang sangat penting dan juga merupakan penunjang keberhasilan penelitian tersebut. Penggunaan metodologi yang tepat dan sesuai dengan masalah dalam penelitian akan membuahkan hasil yang sempurna serta dapat dipertanggungjawabkan kebenarannya. Selain itu kesalahan-kesalahan yang terjadi saat penelitian dapat dikurangi seminimal mungkin.

Telah diuraikan di atas bahwa metodologi merupakan komponen yang sangat penting dalam penelitian, maka dapat disimpulkan bahwa metode penelitian adalah suatu ilmu pengetahuan yang mengulas secara rinci tentang tata cara menggandakan penelitian sehingga dapat dipertanggungjawabkan kebenarannya.

Dalam penelitian ini peneliti menggunakan metode-metode sebagai berikut :

a). Observasi

Secara umum observasi adalah pengamatan dengan tujuan mengumpulkan data yang valid dan akurat yang diperlukan untuk menjawab masalah tertentu yang timbul dalam penelitian. Observasi ini bertumpu pada proses dan hasil serta pengaruh pembelajaran yang telah dilakukan sebagai  tindakan perbaikan terhadap peserta didik. Pengaruh serta proses yang telah diamati diidentifikasi kemudian hasilnya akan digunakan untuk menyusun kembali langkah-langkah perbaikan. Dalam melakukan obsevasi ini diperlukan adanya beberapa instrumen diantaranya:

  • Rencana Perbaikan Pembelajaran ( terlampir)
  • Lembar Pengamatan Siswa ( terlampir)
  • Lembar Observasi guru ( terlampir)

b). Tes

Menurut Suharsimi Arikunto tes adalah pertanyaan atau latihan dan alat lain yang digunakan untuk mengukur keterampilan, pengetahuan, intelejensi atau bakat-bakat yang dimiliki oleh individu atau kelompok (1985:105). Sehubungan dengan pernyataan tersebut, peneliti menggunakan tes prestasi dalam penelitian ini guna mengetahui sejauh mana keterampilan siswa tentang materi yang dibahas serta mengukur tingkat pencapaian seorang siswa setelah mempelajari sesuatu.  Berikut adalah instrumen yang digunakan peneliti dalam tes :

  • Lembar kegiatan siswa ( terlampir )
  • Lembara evaluasi akhir ( terlampir )
  • Lembar analisis ( terlampir )

2. Data Hasil Pengamatan

Peneliti dibantu oleh teman sejawat yang mengamati berbagai hal  yang menjadi kendala dalam proses pembelajaran di mana selama proses pembelajaran siswa kurang respek pada materi yang dibahas, guru kurang kreatif dalam menggunakan alat peraga, tidak mendorong siswa untuk lebih antusias dan kreatif sehingga bila diberi pertanyaan oleh guru siswa tidak dapat menjawab dengan benar.

Berikut adalah lembar pengamatan yang dilakukan oleh teman sejawat:

ASPEK YANG DIAMATI

1. Mengelola ruang dan fasilitas pembelajaran :

□       Dipersiapkan sebelumnya

□       Tidak dipersiapkan sebelumnya

2. Kegiatan awal :

□       Cerita kejadian

□       Demonstrasi

□       Refisi / melengkapi pelajaran yang lalu

3. Penggalian pengetahuan awal siswa :

□       Tidak □       Kurang □       Baik

4.Pembelajaran berhubungan dengan lingkungan kehidupan sehari-hari / aplikasi :

□       Tidak

□       Kadang-kadang

□       Selalu

5. Mengarahkan siswa agar aktif dalam pembelajaran :

□       Tidak

□       Kadang-kadang

□       Selalu

6. Perhatian terhadap siswa

□       Tidak

□       Sebagian

□       Seluruhnya

7. Suasana pengajaran

□       Tegang

□       Menyenangkan

□       Membosankan

8.  Siswa aktif bertanya dan menanggapi pertanyaan guru

□       Tidak

□       Sebagian

□       Seluruhnya

9.  Menanggapi pertanyaan dan respon siswa

□       Baik

□       Cukup

□       Kurang

10.  Minat anak terhadap pelajaran

□       Baik

□       Cukup

□       kurang

11.  Pertanyaan yang diajukan guru

□       Tidak relevan

□       Relevan

□       Bervariasi

12.   Penggunaan alat peraga yang tersedia

□       Baik

□       Kurang

13.  Jenis media yang digunakan

□       Tidak ada

□       1 jenis

□       Lebih dari 1

14.  Metode yang digunakan dalam pembelajaran

□       Tepat

□       Kurang tepat

15.  Bahasa yang digunakan guru

□       Jelas dan sedehana

□       Sulit dimengerti

16.  Penguasaan materi

□       Baik

□       Cukup

□       Kurang

17.  Kegiatan pemantapan

□       Soal evaluasi

□       Membuat ringkasan

□       Pekerjaan rumah

□       Tidak ada

18.  Pemberian penguatan oleh guru

□       Baik

□       Kurang

19.  Waktu pengajaran

□       Kurang

□       Cukup

□       Lebih sebab kehabisan materi

Lembar Pengamatan Siswa Siklus II

No Nama

Kelompok

Keaktifan Kerja

sama

Ketepatan jawaban Skor nilai
1 2 3 1 2 3 1 2 3 4
1. Kelompok I 9 90
2. Kelompok II 10 100
3. Kelompok III 10 100
4. Kelompok IV 9 90
5 Kelompok V 9 90

Penskoran:

Keaktifan:

1.Selama berdiskusi siswa hanya bersikap semaunya sendiri dan masa bodoh.

2. Selama berdiskusi hanya sebagian siswa yang bertanya atau mengajukan usul

3. Selama berdiskusi semua anggota aktif dan sering bertanya atau mengajukan usul

Kerjasama :

1. Apabila dalam mengeerjakan tugas hanya 1 anak yang aktif

2.Apabila dalam mengerjakan tugas hanya sebagian anak yang bekerjasama

3.Apabila dalam mengerjakan tugas semua anggota kelompok selalu bekerjasama.

Ketepatan Jawaban :

1. Bila jawaban yang deberikan siswa tidak sesuai dengan materi

2. Bila jawaban yang diberikan berhubungan dengan materi namun tidak sempurna atau kurang sesuai dengan jawaban yang diinginkan.

3. Bila jawaban siswa sesuai dengan yang diharapkan namun kurang lengkap

4. Bila jawaban yang diberikan siswa sesuai dengan yang diharapkan serta lengkap dan rinci

3. Data nilai Evaluasi Akhir

Hasil evaluasi akhir mata pelajaran sains tentang kenampakan permukaan bumi pada pembelajaran perbaikan siklus II jumlah siswa kelas IV sebanyak 16 anak dengan urutan nilai sebagai berikut :

No Nama Siswa Nilai

Siklus I

Ket Nilai Siklus II Ket
1

2

3

4

5

6

7

8

9

10

11

12

13

14

15

16

Mutinah

Rajin

Akbar Sidik A

Arul

Ayu

Dian

Endrik cahyono

Galang

Ilham

Indah

Prasetyo

Siti Nur.K

Sri Lestari

Susanto

Thalia

Suchi

60

50

85

60

75

75

70

85

70

70

70

60

75

60

90

90

Belum

Belum

Berhasil

Belum

Berhasil

Berhasil

Belum

Berhasil

Belum

Belum

Belum

Belum

Berhasil

Belum

Berhasil

Berhasil

75

60

90

75

75

75

70

90

75

70

75

75

80

75

90

90

Berhasil

Belum berhasil

Berhasil

Berhasil

Berhasil

Berhasil

Belum berhasil

Berhasil

Berhasil

Belum berhasil

Berhasil

Berhasil

Berhasil

Berhasil

Berhasil

Berhasil

4. Refleksi

Berdasarkan pengamatan teman sejawat dan hasil renungan guru setelah melaksanakan pembelajaran sains siklus II diperoleh hasil sebagai berikut :

  • Dalam proses pembelajaran anak telah termotivasi karena guru telah mampu menata dan mengendalikan kelas dengan baik.
  • Guru memperhatikan dan mengawasi anak didiknya selama proses mengajar secara merata.
  • Media pembelajaran yang digunakan sudah sesuai dengan materi yang diberikan sehingga menarik perhatian siswa.
  • Dalam proses PBM guru telah terampil menggunakan alat peraga dan juga menggunakan metode pendukung sebagai upaya berhasilnya proses pembelajaran yang telah dilakukan.
  • Guru aktif membimbing siswanya dalam kelompok diskusi sehingga siswa merasa terdorong dan termotivasi dalam mengerjakan tugas.
  • Bahasa yang digunakan guru dalam menjelaskan materi bahasan telah jelas dan mudah dimengerti oleh siswa sehingga sebagian besar dari mereka bisa menjawab pertanyaan guru dengan lengkap dan rinci.

Setelah dilaksanakannya perbaikan pembelajaran pada siklus I hanya 7 anak (45%) yang berhasil mendapat nilai di atas 70 dari 16 siswa sedangkan 9 siswa (55%) mendapatkan nilai di bawah 70 atau tidak berhasil. Berdasarkan pada hasil perbaikan pembelajaran siklus I tersebut terbukti bahwa perbaikan pada siklus I belum berhasil sehingga dilakukan lagi perbaikan pembelajaran siklus II. Pada perbaikan pembelajaran siklus II diperoleh hasil lebih baik dari siklus sebelumnya yakni dari 16 siswa hanya 3 siswa (21%) yang mendapat nilai 70 atau di bawah 70 yang artinya ketiga anak tersebut belum berhasil, sedangkan 13 anak (79%) anak telah berhasil dengan mendapatkan nilai di atas 70. Dengan  demikian dapat disimpulkan bahwa sebagian besar siswa telah memahami materi yang disajikan oleh guru dalam pembelajaran.

Dari kedua siklus yang telah dilakukan terbukti bahwa pembelajaran yang dilaksanakan sudah menunjukkan keberhasilan meskipun belum sempurna. Kemajuan hasil belajar yang diperoleh siswa setelah siklus II merupakan sebuah bukti adanya peningkatan hasil belajar. Dari fenomena pendidikan tersebut dapat diambil kesimpulan bahwa ada faktor-faktor yang bisa mempengaruhi prestasi belajar siswa diantaranya adalah sebagai berikut:

  • Kesehatan jasmani (kesehatan fisik) seorang anak.
  • Keadaan psikologi seorang anak seperti kemampuan intelejensi, bakat, minat serta kesiapan atau kematangan siswa.
  • Latar belakang sosial siswa yang meliputi keluarga, yakni cara orang tua mendidik dan membiasakan seorang anak, keadaan ekonomi serta suasana dalam keluarga.
  • Komunikasi antara guru dan siswa yang masih minim.

Dari faktor-faktor di atas ketidakberhasilan anak dalam pembelajaran dapat ditemukan penyebabnya, sehingga guru tidak hanya memiliki tanggung jawab unutk mendidik siswa di dalam kelas saja tetapi juga harus memperhatikan keadaan bahkan latar belakang peserta didik sehingga bilamana terdapat permasalahan dalam pembelajaran dapat segera ditemukan jalan keluarnya.


Aksi

Information

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: